Jumat, 03 Oktober 2014

Di antara deraian mengalir tulus,
Terlihat tangan menggenggam erat,
Tak mau lepas, tak bisa ingin jauh.
Kelopakmu berkaca kaca, butiran butiran putih menetes,
Matamu penuh air mata dan pipimu lembap.
Jelitaku...
Ini bukan sebuah sajak pisah, bukan juga akhir bersua,
Aku akan biarkan air matamu mengalir, bukan karena pilu yang menyayat,
Ataupun duri yang menggores jiwa, bukan juga kata kata yang berpedang.
Air matamu akan mengalir hanya untuk kebahagiaan,
Menetes karena kesetiaan yang tulus bersamamu apa adanya.
Bahagia karena tetap bersama di masa yang sangat sulit sekalipun,
Tanpa pengkhianatan dan pengingkaran.
Bahagiaku adalah saat aku bisa tersenyum dengan bebas,
Tertawa lepas hingga kadang ku lupa kalo aku sedang lapar.
Jelitaku...
Bersamamu itu indah walau hanya untuk berdua,
Sampai akhirnya kita lupa, kalau ternyata "mereka" begitu serakah,
Mereka menggenggam dengan tidak tulus seperti aku mencintaimu,
Tangan mereka gejolak pamrih memeras tanpa perasaan,
Saling menyikut, mendorong, bahkan menggunting hingga terpotong,
Tak peduli ada yang jatuh dan terinjak.
Jelitaku...
Mereka selalu begitu,
dan mungkin akan selalu begitu.
Ada burung yang melihat mereka,
iya,,itu burung Garuda,
Mereka telah lupa, lupa semua harapan dipundak mereka,
Tidak lagi ingat semua impian tulus kita,
Bahkan mereka lupa ada tulisan di bawah kaki burung itu.
Jelitaku...
Jangan tangisi ini, semua telah mati,
Mati rasa, mati sanubari.
Mereka adalah benalu yang bernaung di Senayan.
Jelitaku...
Bila malam tiba tolong bisikan pada PANCASILA,
Kalau kita lagi sakit rindu............

Rabu, 03 September 2014

USANG
Ku diantara bayang cercah,
berlalu tanpa pengaruh.
Ku di antara tatapan sinis,
ada miris menatapmu.
PESONA
Di rintik hujan, Itu terurai..
Di belai alam, menghias wajah
Itu pesona, indah di bawah rintik
DAEP (Putri Mawar)
Semakin ku resapi,
meraga dalam bejana jiwa.
Semakin ku selami,
tenggelam dalam dasar raga.
Kau meliliti ku dalam pesona,
melingkari ku dalam keanggunan.
Ketulusan ini rasa tanpa pamrih.

Selasa, 02 September 2014

Maaf..ini terlalu cepat untuk ku tulis disaat rasa masih ingin begitu lama bersamamu.
ang penuh dengan kerikil tajam yang terus melukai tumitku untuk melangkah maju. Jangan kau diamkan sedihmu untuk bersemayam di jiwa lembutmu. Karena air matamu itu terlalu berharga untuk aku simpan bagi kebahagianmu. Aku akan pergi walau kegelapan akan menutupi ku perlahan dengan awan hitamnya tapi ini tak akan pernah membunuh langkahku.
Dan bila nanti tinggal bayangku yang kau temui di hadapanmu, maafkanlah aku karena aku tak akan pernah ada lagi di sisimu di saat kau merindukan aku. Dan bila nanti kau mendengar bunyi dentingan gitar ku ingin kau mengingatku bahwa aku begitu rindu untuk kembali bersamamu menyanyikan lagu yang paling kau sukai. Aku akan menyanyikan lagu kesukaanmu itu di kejauhanku untuk bisa kembali merindukan senyummu. Mengingatmu di saat ku sendiri dengan mengenang saat bersamamu, hanya itu yang bisa ku lakukan untuk meluapkan rindu yang membelengguku.
Rosesku..maaf aku tak mampu menggapai harapanku karena kenyataan ini telah memisahkan genggamanku darimu. Aku diantara bayang maya yang tak pernah nyata.
Berputar berpacu dalam waktu,
ku tersangkut di ranting pesona.
Berlari bayangmu menggoda jiwa,
melanglang dalam pusaran tak tertahan.


Di mayamu ku berdiri,
berharap menyata di peluk mata.
Di telagu beriak tenang.
ini rindu tak bertepi.
KADO FAJAR
Menelusuri bayang bayang suram,
Ku ditengah tapak misteri.
Mengarungi hamparan tak berbatas,
Kuatkan langkah meniti semangat.